Sunday, January 31, 2016

Emosi Stadium Lanjut

"Hadeeeeh! Berapa tahun sih rumahnya enggak dibersihin, Bi?" teriak mimin dengan emosi bergejolak.

"Eeeeeett dah, protes apa menghina, lu?" Bi eno yang lagi ngulek sambel balas menyahut.
"Debunya banyak bangeeet!"
"Yah, maklumlah, namanya juga rumah pinggir jalan."
"Dasar kotoran tidak berperikemanusiaan! Disapu kedepan larinya kebelakang! Disapu ke belakang larinya malah ke samping. Giliran di sapu ke samping eeh, pada terbang muter-muter didepan gue!"
"Ya iyalah pada berterbangan. Kipas anginnya dinyalain gitu!" timpal Bi Eno mengamati ruangan.
"Kipasnya kan jauh, Bi! lagian disini panas, enggak kayak di kampung," Mimin bersungut sambil terus menyapu.
"Trus, gue harus ngulek sambil nungging gitu?" seru Bi eno enggak mau kalah. "Kalo enggak sanggup mending kerjain yang lain gih! Cat dapur kek, sikatin kamar mandi kek, ng.... mandiin hamster juga boleh!"
"Hm, sori dori mpok nori deh... " kata Mimin dalam hati. Ia memutuskan untuk mengelap lantai dan semua perabotan diruangan itu dengan kain basah saja. Apapun yang terjadi kini Mimin akan diam. Daripada nyaksiin bibinya ngulek sambel sembari nungging, kayak apa nanti bentuk dan rasanya tuh sambel?

Usai merapikan ruang tamu, Mimin menyetel televisi, "Klik!"

PEMIRSA! KINI TELAH HADIR DI HADAPAN ANDA. SATU PRODUK ALAT RUMAH TANGGA SUPER CANGGIH... PENEYDOT DEBU DAN KOTORAN YANG MENGGUNAKAN MESIN BEGITU HANDAL.
"Ini dia yang penting buat dibeli!" guman Mimin mengomentari sebuah tayangan iklan.
MESINNYA BEKERJA SANGAT EFEKTIF MENGHILANGKAN BERBAGAI MACAM DEBU DAN KOTORAN.
"Keren! Sampah apapun bisa kesedot. Gue enggak perlu repot-repot mungukutin sampah. Apalagi model sampah dirumah bibi gue ini. Macam-macam sampah mainanya si Ogi itu... Ada gundu, CD, kartu mainan, bahkan ada sendok garpu segala! Kenapa enggak sekalian piring isi nasi goreng? biar buat sarapan gue gitu!"

INI TIDAK SEPERTI VACUM CLEANER BIASA... TEKNOLOGI CYCLE YANG DIGUNAKAN PADA MESIN MEMBUAT ALAT INI BEKERJA SECARA MAKSIMAL!

"Mantep deh! Tinggal colokin kabel, pencet tombol, trus babat habis semua! Enggak perlu acara manyun karena kotoran serasa ngeledek. Orang gue bersihin dengan penuh cinta, dia malah berterbangan ngajak berantem. Hm... harganya berapa nih?" Mimin penasaran.
Ia akan mengajukan usul pada bibnya untuk membeli alat super canggih itu.
DI DESIGN DENGAN BENTUK YANG MEMUDAHKAN ANDA DALAM MERAWAT, MENYIMPAN ATAU MEMBAWANYA KE MANAPUN ANDA PERGI.
"Liat aja entar kalo Bi Eno beli".
Lumayan bisa gue sewain ke tetangga. Jadi punya bisnis sampingan kan? Yah, daripada gue tawuran trus nongol di TV jadi korban tewas? Mati muda dong gue. Hiii..!"
JAS, KEMEJA, KASUR, SOFA DAN SEMUA BAHAN YANG MEMBUAT DEBU DAN KOTORAN MELEKAT DAPAT DIBERSIHKAN HINGGA TUNTAS. ANDA TAK PERLU REPOT BUKAN?
"Bukaaaan !!!" Tapi betewe, harganya berapa siih?" tanya Mimin.

PERHATIKAN SPRING BED ANDA! GUNAKAN KACA PEMBESAR YANG MAMPU MENDETEKSI KOTORAN DAN DEBU HINGGA DETAIL! ATAU SOFA YANG SEDANG ANDA DUDUKI SEKARANG... LIHAT DENGAN TELITI, BANYAK KUMANNYA BUKAN? HAL INI AKAN MENGANCAM KELUARGA ANDA.

"Waduh! ini tukang iklan atau paranormal sih? kok tau gue lagi duduk di sofa dekil? jangan-jangan kumannya pun udah beranak-cucu. Hadeehh, harganya mana sih ?" Mimin ketuk-ketuk meja karena enggak sabar mau lihat harga barang.
DENGAN TEKONOLOGI CYCLE ALAT INI MAMPU MENGHISAP DAN MENYARING DEBU SERTA KUMAN YANG SANGAT BERBAHAYA BAGI KESEHATAN ANDA SEKELUARGA.
"Banyak ngomong lu! Harganya berapa? Hrrrgh... Awas ya, sekali lagi ngomong sapu lidi melayang nih!" emosi Mimin sudah memasuki stadium lanjut.
INGAT! HANYA ALAT INI YANG MAMPU BEKERJA MAKSIMAL. DAYA HISAPNYA YANG BEGITU TINGGI TIDAK DIMILIKI OLEH PRODUK LAIN. BILA ANDA MENGGUNAKAN PRODUK LAIN, ITU SAMA AJA ANDA MEMBIARKAN KUMAN KEMBALI BERTERBANGAN
"Hatchiiim!!! Ya Alloh.. tolong."

ANDA AKAN MERASA NYAMAN LUAR BIASA, KARENA ALAT INI DAPAT MENJANGKAU HINGGA KE SUDUT RUANG TERSEMPIT SEKALIPUN. BAHKAN HINGGA KEKOLONG JOK MOBIL ANDA! MASALAHNYA ANDA PUNYAMOBIL ATAU ENGGAK? KALO ENGGAK, YA.. BELI DULU KALEEE!

"Ghubrakkks!" Mimin pingsan sodara-sodara... Sepupunya yang bernama Ogi sempat melihat adegan memilukan itu.
"Teteh kenapa? Mau beli alat yang di TV itu ya?" Tanya Ogi lugu.
BILA ANDA BERMINAT, SILAHKAN HUBUNGI KAMI DI 021-9910-2995 KAMI AKAN MELAYANI ANDA.
"Teteh bangun, itu harganya dicatet dulu... " kata Ogi heboh.
Dan Mimin pun terbangun dengan semangat yang sudah berguguran.
Tetapi ia manyun lagi.
"hoaaah... itu nomor telepon, Gi, bukan harga!"
"Ghubrakks!" Nah loh, dia pinsan lagi sodara-sodarah.....

":v :v :v"

Saturday, January 23, 2016

Kuntilanak Maling Beling

Cerpen Keren Abis Kuntilanak Maling Beling

Komplek gua heboh, gempar menggelegar cetar membahanan nan melegenda. 

Semua itu berkat teror "Kutilanak Maling Beling". Gue juga gak ngerti sejak kapan kuntilanak doyang beling. Konon sih sudah sebulan ini banyak warga yang nengokin kuntilanak tanpa anak gak juga lagi beranak berkeliaran di sekitar komplek. Fenomena itu lalu disusul laporan tiga warga yang ngaku rumahnya kemalingan. Anehnya mereka semua cuman kemalingan barang-barang pecah belah, sedangkan uang dan gadget tetap aman, sejahtera dan lesmana.
"Kuntilanak itu sepertinya cuman modus yang dipakai penjahat untuk menyebar teror sehingga warga ketakutan dan mereka leluasa menjarah" Pak RT mengemukakan teorinya aps rapat warga ba'da sholat magrib di mushala dengan berapi-api kayak orator demo masak.
Gue sih mengenarkan dengan cuek. Subjektifitas gue sih ya mendingan kuntilanak itu malingin beling daripada malingin cowok ganteng nan imut ayak marmut ngemut semut macam gue, bisa-bisa populasi cewek kesepian bakal meningkat derastis dan bisa menimbukan perang sesama gender. Bahaya banget kan?
"Karena itu mulai malam ini kegiatan ronda kita gelakan kembali demi terciptanya keamanan dan perdamaian di komplek kita. Merdeka!!"

"MERDEKA!!!" timbal peserta rapat seraya mengacungkan kepalan tangan ke udara.

"dan tugas mulia ini, episode perdananya diserahkan kepada...." dug durugdugdug zwong... suara drum disusul tanjidor mengintrupsi.
"Iswari, Nandang, Kiwon, Bagus, dan .... Jana"
Gue terperangah, terperanjjat, terjungkal hingga terisak penuh haru karena tanpa diduga nama gue disebut paling buntuk buat menanggung cobaan penuh nestapa bernama ronda.
Gue tau gak mungkin gue menghujat Tuhan dengan pertanyaan "WHY ME". Gue juga gak bisa niru gaya balotelli pamer singlet bersablon "WHY ALWAYS ME", kaya waktu dia menjebol gawang MU. Karena singlet gue cuman bercariasikan lubang-lubang asimetris yang mengisyaratkan betapa udzurnya usia tuh singlet. Jadinya gue cuma tiarap pasrah.
Semangat gue baru tersulut setelah secara ajaib dan tiba-tiba Titi Sjuman muncul sambil menggandol showcase penuh botol teh. Dia mencengkram tangan gue sambil bilang, "Kamu pasti bisa !!"
Mama histeris, memekik sambil melotot dramatis ketika gue melaporkan tugas mulia gue. Saking lebaynya reaksi mama, masker lumpur ijonya sampai retak-retak. Mengharukan kalau ketidakridhoan mama karena saking kwawatirnya anaknya masuk angin, kurang tidur atau kecapean, tetapi motif mama adalah:

"Murhamuha thezulk, zhamnya zupha dzung?"

Kalaulah ini pilem, dibawah dagu mama bakal muncul translation:
"Mama tidur sama siapa dong?"
Gara-gara teror kuntilanak maling beling, mama jadi parno level 10 dan dampaknya adalah terdepaknya guedari kasur gue sendiri, karna mama maksa buat berbagi kamar. Belum cukup tidur beralaskan tikar, mama juga memborgol tangan kanan gue dan tangan kiri mama. Usaha mama agar gue nggak bisa kbur ninggalin mama tidur sendirian.
Setelah janji bakal sering nengokin mama, akhirnya mama rela melepas gue ronda walau dengan derai air mata lengkap dengan wejangan yang kalau ditulis bisa setebel novelnya Andrea Hirata.
Sampai dipos kamling yang cuman nyebrang rumah geser 10 meter ke kiri, gue cuman ketemu Kiwon dan Bagus.
"Pak Iswari lagi nemenin kucingnya yang mau lahiran" kata Kiwon, mantan temen SD gue sekaligus partner ronda gue yang berbadan kayak trenggiling keselek bantal guling. Wih, apa Pak Iswari selingkuh sama kucingnya sampai lahiran harus ditemenin?

"Pak Nandang lagi ambeyen, jadinya cuma kita ini Trio Kwek Edi si brewokan yang ronda malam ini".

Kata Bagus sambil tersedu.
Sepuasnya nongkorong di pos kamling sambil membantai keturunan perselingkuhan vampire sama lalat alias nyamuk, kitapun memutuskan patroli komplek. Siapa tau kita menangkap basah pelaku kuntilanak maling beling dan memenangkan Award Ronda of the Year.
"Eh, stop !!" Intruksi Bagus seraya menahan langkah gue dan Kiwon. Reflek gue langsung berdiri dibelakang Kiwon.
Lebih baik dunia kehilangan makhluk luas kaya Kiwon kan dari pada makhluk ganteng macam gue?
"Lihat tuh di depan!!" lanjut BagusCuma 50 meter di depan terlihat sesosok berbaju putih tengah mengendap-endap hendak memasuki pekarangan sebuah rumah. Dia sibuk celingukan melongok keadaan rumah dari sela-sela pagar. Jantung gue mendadak jedar-jedor kayak petasan ketemu tanjidor.

"MALIIIINGGGGG!!!"

Arjattt!!! Si Kiwon malahan teriak histeris yang bikin tuh maling ketar-ketir. Hancur!! Hancur sudah rencana gue buat ngarungin tuh maling dari belakang. Hancur sudah rencana gue buat daftar jadi anggota Mistery Inc.
Insting maling kuntilanak KW 2 itu langsung bekerja waktu sadar aksinya ketahuan. Dia ngacir kocar-kacir tanpa getis, sementara itu di belakangnya The Three Masketeer amatir ikutan ngacir secepet petir nguber sambil koar-koar cari perhatian warga biar waspada.
Ketika tiba-tiba kuntilanak KW 2 itu hilang di belokan dan kita terpaksa berpencar, gue ngambil kesempatan buat ngacir ke rumah. Bukannya culas tapi tindakan gue adalah demi penyelamatan dunia dari kehilangan salah satu makhluk gantengnya, gimanapun maling terdesak suka bertindak buas. 

Mereka berhasil memberanggus kuntilanak maling beling yang pelakunya...

ternyata Pak Iswari. Motifnya karena kepepet latihan buat ikutan kejuaraaan Debus Nasional, sementara seluruh beling dirumahnya termasuk kaca jendela, kaca nako sampai kaca mata bininya sudah habis di lahap.
Dengan langkah gontai gue pun balik ke rumah. Hati ngilu bagai disayat sembilu karena harapan menjadi pahlawan instan gak kesampaian.
Guepun melingkar kaya uler di sofa ruang sambil mikirin apa yang gue tangkep tadi, karena 100% gue sadar waktu rambut gimbal itu masuk ke dalam sarung.
Disaat mendung gitu tiba-tiba sepasang telapak tangan nutupin mata gue. Gue merengut, lagi galau gini mama malah ngajak maen cilkbaan.
Mama ini, niat lucu-lucuan kayak ABG kegatelan atau ngulang masa TK yang kurang bahagia??
Hidung gue bersin hebat, gak terima sama aroma mama yang baunya kayak kamboja-cempaka-cabe busuk di-MIX.
"Mama pake masker apalagi sih?" protes gue sambil melepas paksa tangan mama yang betah banget nempel di kulit gue.

Gue ternyata salah, itu bukan mama. 

Gue refleks koprol sambil teriak WOW. Karena dihadapan gue berdiri kuntilanak gak bawa anak, gak juga lagi beranak, berambut gimbal, berbaju kumal dengan mata horrible total, menyeringai lebar mamerin gig-gigi ompongnnya yang berwarna ungu pekat sambil berderik riang.
"BAAAAA......!!"

Thursday, January 21, 2016

Cerpen : Phobia

Cerpen: Phobia

Cerahnya sore itu nampaknya menyaingi keceriaan dari tiga orang sahabat ini. Saat ini, Sam dan Cindy mengunjungi rumah Jessica seperti biasa. Yang berbeda kali ini ketiga remaja itu melangsungkan rencana mereka untuk bermain Phobia, sebuah game yang sedang menjadi buah bibir di sekolah mereka. Tentunya Sam, satu-satunya laki-laki di sana, sangat antusias dan penasaran. Tidak seperti Cindy, yang memang paling penakut diantara mereka.
"Hei, kalian yakin? Bagaimaan kalu gosip itu benar? Bagaimana kalau kalian mimpi buruk nanti malam?" tanya Cindy. Ia hafal betul dengan sifat kedua sahabatnya yang suka iseng dan nekat itu.
Komputer Jessica dalam cerpen Phobia
"Kalau aku sih tidak masalah. Cuma game, kan hehehe." Jessica ternyeum lebar.
"Betul ayolah, aku sudah sering main game horor dan tidak ada yang benar-benar seram!" kata Sam tidak percaya.
"oke, oke." jawab Cindy malas. "Aku akan temani kalian saja."
Cindy pun otomatis kalah debat itu. Sementara itu, Jessica mulai membuka website Phobia di komputer.

Sebuah halaman berlatar belakang hitam dengan tulisan 'Phobia' besar-besar muncul disana. 

Halaman itu tampak normal seperti website pada umumnya.
Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Mendadak, pandangan mereka bertiga menjadi kabur keapal mereka pusing seperti sedang berputar.
"Tunggu! Sepertinya aku sakit." kata Sam sambil memegangi pelipisnya.
"Tidak, Sam. Kepalaku juga pusing. Aku jadi mual!" kata Jessica.
Condy mengangguk setuju, "Aku juga kenapa jadi begini ya?"
Pusing yang mereka rasakan semakin parah kini, mereka nyaris tak bisa melihat apa-apa lagi. Setelah pemandangan kamar jessica yang berputar digantikan oleh pusaran aneh serba hitam. Terjadi sebuah tekanan yang sangat kuat!
Mereka tertarik kedalam komputer
"Aaaaaaaaaaa!" jerita mereka. Kamar itu pun kosong.
Jessica membuka matanya yang terasa berat. Ia mengumpulkan fokus matanya kembali. Langit-langit kamarnya terasa berbeda, bukan lagi bercak ungu. Ia hanya perlu berberapa detik untuik menyadari bahwa tempat itu bukanlah kamarnya, melainkan sebuah rumah besar yang sangat sepi dan tak banyak terdapat barang. "Tempat apa ini?"
Ia bangkit untuk melihat sekitarnya. "Sam? Cindy?"
Menyadari kesendiriannya, ia kemudian mencoba membuka sebuah pintu besar yang nampaknya pintu untuk keluar. Seperti yang sudah diduga, pintu itu terkunci. Hanya ada alat kecil yang sepertinya untuk memasukan sebuah password.
Mengikuti instingnya, ia pun menjelajahi deretan kamar yang ada. Sesekali ia memeriksa laci dan tempat tidur, kalau-kalau ada petunjuk mengenai tempat itu.

Jessica membuka pintu kesembilan. Tunggu, ada sesorang di dalam!

"Aaaaa!" Jessica lari pontang-panting saking terkejutnya. Ia masuk ke salah satu kamar. mengunci pintu dan mengumpulkan kesadarannya kembali. "Astaga! Apa-apaan ini?"
Orang itu bukan manusia. Bajunya compang-camping, bekas sayatan dan luka sobek dimana-mana, mukanya pucat dan nyaris tak berbentuk. Dengan kondisi seperti itu, tentunya makhluk itu tak bisa berlari secepat Jessica.
"Jessica! Apakah itu kau?"
"Sam?" Jessica terkejut, lalu mengintip dari balik pintu. Di luar ada sam, utuh, hidup, sungguhan. "Sam! astaga, untung ada kau! Eh, tapi diaman Cindy?"
"ku belum lihat Cindy." ujar Sam. "kita ini dimana sih? Tadi ada zombie di dekatku."
"Tidak tahu. Aku juga baru saja kabur dari zombie." jawab Jessica. "Lalu apa yang kamu lakukan terhadap zombie itu?"
"Yah, spontan deh. Kulawan dengan tangan kosong."
Jessica duduk di lantai dan memeluk kedau kakinya. Sepertinya, ia mulai mengerti maksud game itu : 'bermain' yang sebenarnnya.
"Ayo cari Cidy! Dia pasti ketakutan sekali." kata Jessica, sambil bangkit berdiri.
"Sebentar! Kita perlu senjata." Sam mengambil kursi di sebelahnya dan membanting kursi itu keras-keras. "Ini, gunakan serpihan kursi ini."

Di Lantai dua, mereka memasuki sebuah ruang tamu. 

Jessica melihat jendela-jendela yang tak lagi  bening, jam digital yang tak berubah angkanya dan sofa penuh debu. Ada juga selembar kertas dan sebuah buku kecil. "Denah rumah ini dan buku telepon!" seru Jessica.
"Nomor-nomor telepon di buku ini hanya empat angka. Tidak seperti biasanya." ujar Sam sambil membuka-buka buku telepon itu.
"Bagus! Sini, biar kusimpan. Mungkin, inilah kumpulan passwordnya."
"Benar juga ya. Lalu, apa sulitnya game ini? orang-orang memang berlebihan." Sam terkekeh.
Tiba-tiba, terdengar erangan yang cukup keras dari belakang mereka. Ada dua sosok zombie berjalan cepat ke arah mereka. Jessica dan Sam pun langsung menyerbu dan memukul zombie-zombie itu dengan serpihan kursi yang mereka bawa. Namun, senjata itu nampaknya kurang efektif.
Menyadari usaha mereka sia-sia, Jessica berlari ke dapur yang tak jauh dari sana dan kembali dengan membawa sebuah pisau. "Ide Bagus!" kata Sam.
Dalam sekejap, kedua zombie itu berhasil dibuat terkapar dengan bagian tubuh hancur tercabik pisau. Kini, mereka bisa fokus kembali. Jessica membuka denah rumah itu. "Kita harus ke ruang bawah tanah. Cindy pasti disana!"
"Tolong! Siapapun, tolong aku!"
"Cindy!"

Mendengar suara Cindy dari ujung lubang, Jessica dan Sam mempercepat gerak mereka menuruni tangga tali. 

Namun, entah apa yang membuat tanah berguncang secara tiba-tiba. Langit-langit ruang bawah tanah itu mulai runtuh seperti hujan. "Gawat, ayo cepat!" kata Sam. Rasa panik menjalar di tubuh mereka.
Mereka kemudian berlari tanpa arah sambil menutup kepala. Tak ada lampu sama sekali disana.
"Cindy! Dimana kau?" teriak Jessica
"Disini!"
Jessica dan Sam bisa mendengar suara itu dari arah kanan. Mereka meraba-raba dinding, hingga akhirnya Sam menemukan gagang pintu Klik! Pintu itu terkunci. Mau tak mau, keduanya mendobrak pintu itu hingga terbuka dan Cindy pun menghambur keluar.
"Jesica! Sam! aku mau pulang sekarang juga! kita bias mati disini!" Cindy tampak bergetar dan menangis.
"Kita akan pulang, Cindy! Ayo!" ujar Sam.
Diluar, lorong rumah itu sudah seperti kapal pecah. Semua barang jatuh, hancur, dan parahnya lagi, ada sekitar sepuluh zombie besar di hadapan mereka!
"Aaaaaaa!" jerit Cindy mungkin, ia baru menyadari dimana mereka sekarang.
Mereka ingin menuju pintu keluar

"Pintu keluar ada di dekat mereka. Mau tak mau, kita harus hadapi mereka." kata Jessica.

Cindy menelan ludah, tak yakin bisa membunuh zombie-zombie itu. "Baiklah, aku akan mencoba."
Mereka berlari menuju pintu keluar. Benar saja, para zombie menyadari keberadaan mereka dan langsung mendekat. mereka memukul dan menusuk zombie-zombie itu sekuat tenaga. Kali ini memang terasa telah sulit, mungkin mereka para zombie raksasa penjaga rumah.
Jessica berususah payah menyingkirkan zombie yang mencekiknya. Kulitnya serasa akan robek. Ia juga sulit bergerak akibat tercengkram.
"Cindy!" Jessica mengumpulkan tenaga untuk berteriak dan melemparkan buku telepon temuannya ke arah Cindy. "Password pintunya ada disini!"
Cindy menggunakan waktu sedetiknya untuk memungut buku itu dan berlari mendekati pintu. "Tapi yang mana? Banyak sekali angkanya!" teriaknya.
"Menurutmu saja!"
Jessica nyaris tak sadarkan diri. Namun di tengah kesakitan itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Angka-angka jam di ruang tamu itu!
Pintunya memiliki password!
"Tunggu!"
Terlambat. Di layar alat itu sudah muncul tulisan 'Wrong Password'.
Duaarrrr! Tubuh mereka terlempar dan rumah itu hancur dalam sekejap.
"Jessica!" mama terlihat heran. Sudah tiga kali ia memanggil Jessica, tapi tidak ada jawaban.
Jessica, Sam dan Cindy terdiam dan gemetaran di dalam kamar. "Ayo makan" kata mama yang bingung melihat ketiganya seperti baru melihat hantu. "Sam, Cindy, ikut makan yuk!".
Sam dan Cindy hanya mengangguk. Tulisan besar 'Game Over' memenuhi layar komputer Jessica

THE END

Mereka pun keluar dari rumah itu

Wednesday, January 20, 2016

Robocop Basah

Robocop Basah
Entah terlalu banyak lihat film atau kebanyakan nonton iklan, yang pasti alasannya sangat jelas. Aku gak bisa berenang. Jangankan gaya katak, kupu-kupu, dolphin, ubur-ubur, cumi-cumi. Pokoknya andalanku cuma gaya "dadah". Habis nyemplung langsung lambaikan tangan Sayonara.
Pernah suatu kali aku harus menyeberang dengan perahu untuk melakukan perjalanan ke pulau Sempu wilayah kabupaten Malangg, ke-parno-anku kambuh. Keringat dingin keluar melihat perahu tradisional bersandar di dermaga pantai Sendang Biru. Meski udah pucet dan nggak bisa ditayangin, tetep aja kekeh bilang berani. Namanya juga gengsi.
Aku duduk di bagian depan perahu biar berasa kayak film Titanic. Maksud hati gaya, eh malah jadi kayak anak kucing mau dimandiin. Gemeter, terus parno sendiri bayangin yang enggak-enggak. Tsunami-lah, perahu bocor terus di-emut monst
er cumi-cumi. Untuk mengalihkan perhatian, iseng-iseng nanya sama penjaga perahu.

"Aman nggak nih mas?" tanyaku khawatir.

"Hemm... udah biasa sih mbak," jawab mas-mas tukang perahu dan aku udah mau sujud syukur dengernya.
"Tapi kalau musim kayak gini, suka ada yang kebalik pas di tengah." tambahnya sok cool. Aseek... jadi tambah parno.
Suju syukur kehadirat Tuhan Yang Mahasa Esa, perahu sampai di ujung pulau dan kami akhirnya jadi juga merambah Pulau Sempu. Taip pengalaman naik perahu laut itu sempat membuatku merinding untuk tidak bersentuhan dengan air sampai berberapa waktu. Termasuk mandi.
Enga ada hujan, engga ada geledek, enggak ada juga artis dangdut yang lewat. Berberapa waktu setelah itu aku (dipaksa) melaksanakan "tugas negara" mengantarkan adik tingkat melaksanakan pendidikan olahraga arus deras alias berarung jeram.
Maksud hati cuma jadi kru darat, itu tuh kru yang tugasnya di darat doang. Masak, diriin tenda, tiduran, ongkang-oangkang kaki sambil neriakin kalau ada orang yang nyebur jatuh dari perahu. Eh, ternyata kepake juga jadi tim recue. Sekarang aku yang ngeliatin adik-adik tingkat berenang jeram di Sungai Brantas.

Jika beruntung saat berenang jeram, anda bisa menemukan BH tak bertuan, bangkai kucing, dan yang paling asyik bisa lihat si kuning ngambang lewat dengan angkuhnya

Tim rescue bertugas di belakang tim utama. Jaga-jaga siapa tahu ada yang jatuh terus ketinggalan perahu atau ada apa-apa yang lain. Ah... pokoknya bertugas untuk merescue. Aku tahu cara naik perahu, cara pegang dayung, cuma yang nggak aku tahu adalah bisa selamat gak yah waktu nyebur.
Dayung udah digenggam tangan, pelampung udah di badan, tinggal mantepin niat dan ngelangkahin kaki ke perahu karet. Hyuttt... kepala sedikit puyeng. Paranoidku kambuh. Kupaksakan memantapkan posisi pantat di pinggir perahu dan kaki menyangkut di toward. Yang jelas nggak boleh jatuh!
Apa yang terjadi ketika kamu jatuh dari perahu karet yang melaju? Yang jelas buat naik lagi keperahu itu susah. kamu harus bisa pull-up. jangankan pull-up, pullus (baca:uang) aja nggak punya. Kalau nggak bisa naik ke perahu walhasil kamu bakalan ngalir terus sampai berhasil menepi kepinggir sungai. Dan percayalah wahai anakmuda, itu nggak gampang.
Dan ketika kamu berenang jeram dna masih kebawa aliran sngai, masih banyak jebakan menunggu. Terjebak hole, masuk dalam pusaran flat yang panjang sampai tanganku keram. Dan (untungnya) jeram-jeram kecil terlewati tanpa aku terkena sindrom panik. Gengsi ternyata berperan besar menjaga ke-cool-an seseorang.
Dan tibalah ke jeram yang menjadi salah satu maskot Brantas, Jeram patahan musim hujan yang nggak begitu deras ini bikin Jeram Patahan tambah tajam. Kalau sungai Brantas banjir biasanya patahan jadi nggak keliatan, eh tiba-tiba udah lewat.
Otot tangan mulai menggumpal dan rasa deg-degan tambah memacu adrenalin untuk mendayung lebih kuat. Skiper di belakang perahu mengarahkan posisi perahu agar tegak lurus dengan arah jeram. Bila skiper gagal membenarkan posisi, salah-salah perahu bisa terbalik.

Dan jeram semakin mendekat.

Perahu karet terhentak-hentak. Sebagian air masuk ke dalam badan perahu, penumpang perahu berlompatan akibat jeram. Tapi untungnya posisi kaki yang menyangkut toward dengan mantab mengembalikan posisi semula. Semuanya berteriak semangat membabi buat dan tanpa sadar satu orang di antara kami tidak berada di posisinya.
Wahahaha.... kawanku jatuh dan tersangkut di pinggir perahu berusaha untuk naik. Ia harus bisa naik lagi sebelum terbawa arus ke bawah perahu atau tersangkut jeram. Setelah berhasil membantunya naik, kami bernafas lega (terutama aku). Bisa rasanya melegakan. Naik deh satu level.
Setelah jeram patahan bisa dilewati, aku lebih berani mendayung sambil lihat sekeliling. Dan baru menyadari bantaran sungai Brantas yang selama ini kuanggap jorok ternyata indah. Di balik hiruk-pikuk kota Malang yang semakin ramai, pohon-pohon besar bertengger di bantaran kali, bertahan hidup dan menaungi sekeliling sungai Brantas. Cahaya sore mengintip malu lewat celah-celah daun dan hujan rintik seolah menyihir suasana arung jeram ini hingga terasa manis.
Kenapa enggak dari dulu main ini ya? Bobol deh istilah sekali di darat tetap di darat. Meski capek, meski basah, kayaknya aku nggak paranoid lagi sama air.

Malu Bertanya, Sesat di Apartemen

Gambar dua buah gedung dan si tokoh utama

Ini nih tempatnya? gue kebingungan, gue lagi ada di depan 2 gedung 

yang berdempetan kayak bayi kembar siam. Penampakan kedua gedung itu memang berbeda, gedung yang kiri mirip mall, sedangkan gedung yang kanan kelihatannya sih kantor. Gue jadi curiga, jangan-jangan itu gedung beda bapak beda ibu, atau mungkin di zaman dahulu kala kedua gedung dikutuk supaya nempel terus? yang pasti salah satu dari gedung itu mesti gue datengin.
sekedar  flashback, hari ini gue ada panggilan interview di suatu perusahaan yang terletak di sebuah gedung di Jakarta. Gue orang bogor, dan gue agak-agak buta sama Jakarta. Setelah sikut-sikutan sama mba-mba di kereta, berebut ojek sama orang kantoran, akhirnya sampailah gue di gedung itu. Memang ya, ojek itu salah satu jalan keluar buat orang yang gak ngerti jalan di Jakarta, walaupun lu harus siap di tembak dengan harga mahal.
Akhirnya gue mutusin buat masuk ke gedung yang mirip kantor, dan bertanya pada satpam.
"Pak, gedung x yang mana ya?"
"Oh gedung x. Ibu jalan ke simpangan itu, belok ke kiri, terus ikuti jalan." satpam itu menunjukan simpangan yang dimaksud.
Gondok juga gue dipanggil ibu. udah dandan cantik-cantik tetep aja dipanggil ibu, memang ya nasib cewek berbadan besar kayak gue. Meski hati ini merasa tersakiti, gue tetep tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. seenggaknya masih lebih saki di-PHP-in.
Gue pun mengikuti petuah dari satpam, sampai tibalah kacanya bening sebening hati gue, jadi gue bisa liat kalau tempat yang dimaksud satpam adalah mall di gedung sebelah. Ya udah deh gua coba masuk dulu aja.

Dengan semangat yang berkobar di dada, gue dorong pintu itu. 

Jangankan terbuka, pintu itu tidak bergerak sama sekali. Gue coba dorong lebih keras, pintunya tetap diam di tempat. Gue mulai panik. Mas mas yang ada di dekat pintu cuma bengong ngeliatin gue. Mungkin dalam pikiran dia, ini cewek cantik-cantik tapi buka pintu aja gak bisa.
Tadi orang yang jalan di depan gue bisa buka nih pintu. Kenapa giliran gue, ini pintu gak mau ngebuka, salah gue apa? Ini kan pertemuan pertama gue dengan si pintu. apa mungkin tanpa sadar, gue pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi kan itu dulu, gue udah gak mau inget-inget lagi, yang dulu-dulu memang nyakitin.
Akhirnya gue putusin buat balik ke simpangan tadi dan berjalan ke arah satunya. Mungkin aja tadi gue salah denger petunjuk dari satpam. Di ujung jalan, gue bisa ngeliat ruangan yang isinya lift. Gue selamat, cuma tinggal naek lift ke lantai 4 dan sampailah gue di kantor yang dituju. Namun, semua tidak seindah yang dibayangkan. Begitu pintu kacanya gue dorong, ternyata pintu itu gak mau ngebuka. Ibarat menonton film pembunuhan, ketika film akan berakhir justru terkuak kalau pembunuh yang sebenarnya adalah ayah si korban. Sakit banget rasanya.
Gue cuma bisa diam sambil memandang pintu itu kayak orang yang lagi marah sama pacarnya. Tiba-tiba ada orang datang, nempelin kartu ke sensor di depan pintu. Seperti sulap, pintu itu terbuka. Gue takjub, bukan karena pintunya bisa ngebuka, tapi takjub sama kekejaman satpam yang gak ngasih gue kartu. Jadi gue harus nunggu orang dateng supaya bisa naek lift?

Apa mungkin wajah gue membuat satpam itu teringat dengan mantan pacarnya sehingga dia jadi kejam sama gue?


Saat naek lift, gue bersyukur ada yang mau ke lantai 4 juga. karena ternyata untuk mencet tombol lift mesti pake kartu juga. Oh kejamnya dunia, terus gimana nanti gue turunnya? mungkin gue hanya bisa mengerahkan semuanya pada takdir. Begitu sampai di lantai 4, hati gue langsung berbunga-bunga. Akhirnya gue sampai juga. Sayangnya lagi-lagi semua tidak seindah yang dibayangkan. Keluar dari lift, gue terkejut. Tempat yang gue datengin gak kayak kantor. orang yang turun bareng gue udah pergi entah kemana. Gue jalan ke lorong celingak-celinguk kanan kiri, setelah apa yang gue liat udah tersambung sepenuhnya ke otak, gue akhirnya menyadari, kalau tempat yang gue datengin adalah apartemen. Gue ulangi sekali lagi, ini APARTEMEN!
Gue panik, kalau gak ada yang naek lift buat turun ke bawah, gimana caranya gue turun? siapa yang bakal nolongin gue? tiba-tiba  gue kepikiran tangga darurat. Setelah akhirnya gue berhasil nemuin tangga darurat, pintu buat masuknya gak bisa dibuka. Rasanya kayak abis disedot darah sama nyamuk, gue lemes banget. Gue balik lagi ke depan lift dan berpikir bagaimana caranya gue bisa turun dan keluar dari gedung ini.

Tiba-tiba muncul ide brilian di otak gue. 

Semua itu terinspirasi dari film bollywood kesukaan gue. Yang harus gue lakuin adalah mengetuk pintu salah satu kamar. Begitu ada orang yang buka pintu, gue akan pura-pura kena serangan jantung. Gue akan di gotong menuju ambulans. Saat itulah gue bangun dan lari sekencang-kencangnya. Gue bisa keluar dari gedung dengan selamat, ya walaupun berarti gue batal interview.
Tapi gimana kalau gue disangka penjahat? Gue harus bersembunyi dan menyamar. Kalau kayak gitu gue bakal masuk DPO polisi. Rumah gue bakal didatangi dan orang tua gue bakal di interogasi dan semua itu karena gue nyasar di apartemen. Lebih baik cari jalan keluar yang lain.
Apa sebaiknya gue jujur aja? gue cari CCTV, lalu melambaikan tangan ke arah kamera layaknya peserta uji nyali yang sudah menyerah. Gue tinggal nunggu petugas datang untuk menyelamatkan gue. Lalu gue akan digiring keluar gedung. Orang-orang akan bertanya ada apa gerangan, dan petugas akan menjelaskan kalau dia baru aja nemuin orang yang kesasar  di apartemen. TIDAK! gue belum siap menanggung mali seumur hidup.
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Gue hampir joget gangnam style saking senengnya karena ternyata ada orang di dalam lift. Gue harus stay cool supaya orang itu gak tau kalau gue lagi nyasar. Begitu gue liat tombol lift, ternyata dia juga mau turun ke lantai dasar. Rasanya tuh kayak terjun ke bikini bottom, menari, bersama cumi-cumi, dan dikasih burger gratis sama tuan Krab. Gue bahagia. Namun bahagia gue sedikit terusik, tiba-tiba bayang-bayang satpam tadi muncul di pikiran gue. Apa yang harus gue jelasin kalau kami bertemu? apalagi gue udah nuduh dia kejam.
Sesampainya di lantai dasar, gue langsung mengekor orang yang bareng gue di lift. Hanya dia satu-satunya harapan gue saat ini. Dialah yang akan menerangi jalan gue menuju kebahagiaan. membebaskan jiwa gue yang tersesat di apartemen ini.

Oke gue rasa ini terlalu berlebihan. 

Cuma satu yang gue inginkan saat ini, gue pengen keluar dari gedung ini tanpa ketemu satpam yang tadi. Harapan gue terkabul, ternyata orang itu berajalan ke arah pintu pembatas gedung ini dan gedung sebelah. Pintu kaca yang tadi gak bisa gue buka. Rasanya kayak ketemu musuh lama.
Sampai di depan pintu, orang itu menekan tombol merah yang ada di sebelah pintu. Begitu didorong, pintu itu langsung terbuka. Gue cuma bengong melihat ini semua. Gue bener-bener takjub, buat buka pintu aja mesti pencet tombol dulu. Apa selama ini gue hidup di zaman purba? atau gue tiba-tiba terlempar ke masa depan yang serba canggih?
Ternyata kantor yang gue cari memang ada di gedung sebelah, bawahnya aja yang kayak mall, tapi atasnya itu perkantoran. Coba aja tadi gue nanya ke satpam gimana caranya buka pintu itu, mungkin gue gak bakal nyasar sampai ke apartemen. Bagaimanapun  juga gue pernah punya mimpi bisa tinggal di apartemen, anggep aja tadi nyicil ngerasain liftnya dulu. Seenggaknya gue gak telat sampai di tempat interview.

Penulis :Lia Marliyanti

Monday, January 18, 2016

Lemariku Dunia Cokelatku

Jangan beritahu siapapun tentang ini. 

aku punya sebuah rahasia, dan tak akan menjadi sebuah rahasia lagi setelah cerita ini berakhir. Begini, dua bulan lalu aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari lemari bajuku. Ada dunia yang berbeda. Ini bukan cerita seperti di film Narnia. Ini ceritaku, ada dunia coklat dalam lemariku. Aku sudah pernah mencoba membiarkan lemari itu terbuka sepanjang hari. Hasilnya, dunia cokelat itu hanya ada pada jam 11.07 sampai 13.03. Namun, karena aku sekolah hingga siang hari, aku hanya kesana pada hari libur atau Minggu. 
lemari penuh coklat gaby
Lemari Gaby
"Gaby!" Aku menoleh ke belakang kembaranku, Grace selalu masuk tanpa mengetuk pintu. "Oi anti-sosial, aku pinjam bajumu, ya?" 
Oh, tidak! sudah jam 11.00! "Grace, jangan!" terlambat. Dia membukanya. 
"Gab, apa ini? Astaga!" Grace tercengang melihat isi lemariku yang dipenuhi cokelat.
"Sudah kubilang, jangan dibuka!" gerutuku sebal. 
Kuharap Grace tak melakukan sesuatu yang ceroboh. 

Aku mengekorinya memasuki dunia cokelat.

Ada berbagai macam bentuk cokelat disini. mulai dari yang kecil hingga besar. semua sepertinya terbuat dari cokelat. bahkan tanah yang kami pijaki pun terbuat dari cokelat. setiap kali aku kemari, aku tak pernah makan secuil cokelat pun. sedangkan Grace sudah memetik cokelat berbentuk bunga dari tangkainya.
"Apa seluruh cokelat di dunia diproduksi dari sini?" tanya Grace.
"Iya. Seluruhnya berasal dari sini."
Kami terkejut mendengar jawaban itu. Seorang perempuan cantik, berpakaian serba biru, mendekati kami. Tapi tatapannya terlihat bukan seperti orang baik bagiku.
"Aku sering melihatmu." Perempuan itu menunjukku dan mengambil cokelat cari dengan cangkir peraknya. "Kamu beli pernah mencobanya. Cobalah!"
Aku menolak. "Coba Saja!" bujuk Grace. Tapi aku benci cokelat! Perempuan itu dan Grace terus membujukku.
Hm, oke, baiklah! kuulurkan jari telunjuku, untuk mencolek sedikit cokelat dari cangkir itu. Ujung lidahku mulai beraksi.
"Enak kan?" tanya perempuan itu dan Grace bersamaan. Aku menganggut tanpa ekspresi. "Ayo kita jalan-jalan," ajak perempuan itu. Grace bersorak senang. Aku biasa saja.
"Oh iya, siapa namamu? Sepertinya kamu seumuran dengan kami." ujar Grace.
"Chocolata. keren, kan? aku juga manusia seperti kalian,"jawabnya mantap. dia mengajak kami menaiki perahu cokelat. Seperti yang kubilang, air sungai disini juga berasal dari cokelat.
Sepanjang perjalanan, Grace selalu bertanya-jawab dengan Chocolata. Sedangkan aku hanya diam saja.
mereka menaiki perahu coklat di sungai coklat
Menaiki perahu bersama Chocolata
"Sudah 8 tahun aku disini. 1 tahun disini sama dengan 2 tahun di dunia kalian." cerita Chocolata. entah kenapa, aku merasa dia melirikku sinis. Tapi pada Grace, dia terlihat ramah. "Gaby, kenapa kamu tak pernah makan cokelat disini?" tanay Chocolata. Sekilas, kulihat Grace sedang mengunyah alat tulis dari cokelat.
"Ada kejadian di masalampau, yang membuatku membenci cokelat. Lagi pula, aku kesini hanya mencari ketenangan. Grace selalu berisik," sindirku. Grace menoleh dan memperlihatkan giginya yang penuh cokelat. Iyaks !
Kemudian Chocolata menurunkan kami di perumahan cokelat. "Gaby, kadang kita boleh saja mencoba lagi sesuatu yang menyakitkan di masa lampau. Bisa saja, sesuatu itu menjadi indah sekarang." ujar Chocolata tanpa melihatku.
penduduk coklat berbentuk boneka
Ramahnya penduduk cokelat

Penduduk disini berbentuk boneka yang juga terbuat dari cokelat. 

Mereka mencuci baju, bermain, membaca koran, layaknya manusia. Mereka juga terlihat sangat ramah.
Sepanjang perjalanan, otak Grace seperti terpasang radio. Sehingga dia terus bernyanyi sambil memakan cokelat.
"Kenapa kamu baru muncul sekarang?" ini pertanyaan yang mengusikku dari awal bertemu Chocolata.
"Karena saudaramu yang berisik itu. Beda dengan mu yang teramat diam."
"iya, Gaby anti-sosial banget! Di sekolah nggak punya teman," ejek Grace.
Eh, tangga menuju kemana ini? Aku menaikinya atas dasar penasaran. Di atas sana, ada sebuah ruangan yang pintu-pintunya terbuat dari bambu. kubuka perlahan. hanya ada satu sofa di pojok kiri dan di dinding juga terpajang banyak sekali foto. Semua foto berbingkai merah, kecuali satu... Fotoku! Kenapa bisa terpajang disni?
"Apa yang kamu lakukan?" suara itu lagi. Chocolata sudah berdiri di ambang pintu.
"Kenapa fotoku ada sini?" tanyaku.
Chocolata tertawa. "Kamu target selanjutnya. Atau saudaramu!" kulihat arlojiku, 12.59! Sepertinya, aku tahu apa ini, Aku berlari keluar dari ruangan ini, tapi Chocolata menahanku. "Kamu tak boleh keluar dari sini! Aku lah yang harusnya keluar dari tempat terkutuk ini!" Dia menatap tajam ke arahku. Langsung kupukul wajahnya, hingga jatuh.
"Grace! kita hanya punya 3 menit untuk pergi!" teriakku sambil menuruni tangga. Grace heran saat kami mulai berlari. Seketika, para penduduk dunia cokelat menghadang kamu dengan tatapan keji. Kemana hilangnya keramahan mereka tadi? Segera kami patahkan 2 batang pohon cokelat untuk menyerang mereka. Hanya dengan satu pukulan, mereka sudah terjengkang.
banyak pintu yang harus di pilih gaby dan grace
Pintu-pintu

Ada banyak pintu disini, yang mana menuju lemariku? 

Grace membuka satu-satu pintu yang ada, tapi tak bisa.
"Ayo, coba yang lain!" kulihat Chocolata mulai mendekat.
Tinggal 1 pintu lagi. Jam 13.02! Grace mencoba membukanya dan berhasil!
"Kamu jangan pergi!" Chocolata menarik tangan kiri ku. Grace juga berusaha menarik tanganku satunya. Dengan tak sabar, ku tendang perut Chocolata.
"Maaf!' seruku dan langsung keluar.
Grace menutup pintu lemariku dengan panik. "Apa tadi itu mimpi?" tanyanya. Aku tersenyum kecil dan menggeleng.
"Lemari ini harus dibuang."
"Kalau lebih dari jam 13.03, isinya akan kembali seperti semula." jelasku. Grace mengintip lemariku. Dia lega. Kini, isinya hanya baju-baju. "Kejadian tadi, jangan diceritakan kesiapapun, ya?" pesanku.

"Oke. Memangnya, kejadian memalukan apa yang membuatmu benci cokelat?" tanya Grace. 

Aku termenung. Grace membulatkan mata dan mulutnya. "Apa yang dulu aku pernah sengaja melemparimu dengan kue cokelat disekolah? Waktu itu kami sampai menangis kan?" tebak Grace.
Aku memutar ulang kejadian itu lagi. Tak terasa, air mataku menetes. 
grace dan gaby bersahabat
Grace memeluku. "Harusnya kamu tahu betapa malunya aku saat itu."
"Maaf, kalau aku bukan saudara yang baik untukmu. Aku sering menjelek-jelekanmu, berisik, dan tak pernah mengajakmu bermain. Terima kasih juga tadi. Kalau saja kamu tak segera mengajakku keluar. mungkin kita sudah terjebak disana selamanya."
"Tak apa, yang penting kita selamat." Grace melepas pelukannya. "Mau mendengar lagu-laguku?" Siang itu kami habiskan dengan bernyanyi bersama dan berloncat-loncatan di kasur. Aku mulai hafal lagu-lagu Grace. Seterusnya, mungkin aku akan melepas gelar 'anti-sosial' yang diberi oleh teman-temanku.
Dunia cokelat! entah bagaimana nasib Chocolata. Dia harus menunggu sampai ada seseorang yang masuk, sehingga ia bisa keluar. Tapi aku pastikan, bahwa orang itu bukan aku maupun Grace.
Untuk kalian yang mempunyai lemari dan mendapati isinya adalah sebuah dunia baru, aku sarankan untuk jangan pernah masuk! Meski itu adalah dunia cokelat atau dunia dengan kenikmatan lainnya sekalipun.

Penulis : Fransiska Olivia