Thursday, January 21, 2016

Cerpen : Phobia

Cerpen: Phobia

Cerahnya sore itu nampaknya menyaingi keceriaan dari tiga orang sahabat ini. Saat ini, Sam dan Cindy mengunjungi rumah Jessica seperti biasa. Yang berbeda kali ini ketiga remaja itu melangsungkan rencana mereka untuk bermain Phobia, sebuah game yang sedang menjadi buah bibir di sekolah mereka. Tentunya Sam, satu-satunya laki-laki di sana, sangat antusias dan penasaran. Tidak seperti Cindy, yang memang paling penakut diantara mereka.
"Hei, kalian yakin? Bagaimaan kalu gosip itu benar? Bagaimana kalau kalian mimpi buruk nanti malam?" tanya Cindy. Ia hafal betul dengan sifat kedua sahabatnya yang suka iseng dan nekat itu.
Komputer Jessica dalam cerpen Phobia
"Kalau aku sih tidak masalah. Cuma game, kan hehehe." Jessica ternyeum lebar.
"Betul ayolah, aku sudah sering main game horor dan tidak ada yang benar-benar seram!" kata Sam tidak percaya.
"oke, oke." jawab Cindy malas. "Aku akan temani kalian saja."
Cindy pun otomatis kalah debat itu. Sementara itu, Jessica mulai membuka website Phobia di komputer.

Sebuah halaman berlatar belakang hitam dengan tulisan 'Phobia' besar-besar muncul disana. 

Halaman itu tampak normal seperti website pada umumnya.
Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Mendadak, pandangan mereka bertiga menjadi kabur keapal mereka pusing seperti sedang berputar.
"Tunggu! Sepertinya aku sakit." kata Sam sambil memegangi pelipisnya.
"Tidak, Sam. Kepalaku juga pusing. Aku jadi mual!" kata Jessica.
Condy mengangguk setuju, "Aku juga kenapa jadi begini ya?"
Pusing yang mereka rasakan semakin parah kini, mereka nyaris tak bisa melihat apa-apa lagi. Setelah pemandangan kamar jessica yang berputar digantikan oleh pusaran aneh serba hitam. Terjadi sebuah tekanan yang sangat kuat!
Mereka tertarik kedalam komputer
"Aaaaaaaaaaa!" jerita mereka. Kamar itu pun kosong.
Jessica membuka matanya yang terasa berat. Ia mengumpulkan fokus matanya kembali. Langit-langit kamarnya terasa berbeda, bukan lagi bercak ungu. Ia hanya perlu berberapa detik untuik menyadari bahwa tempat itu bukanlah kamarnya, melainkan sebuah rumah besar yang sangat sepi dan tak banyak terdapat barang. "Tempat apa ini?"
Ia bangkit untuk melihat sekitarnya. "Sam? Cindy?"
Menyadari kesendiriannya, ia kemudian mencoba membuka sebuah pintu besar yang nampaknya pintu untuk keluar. Seperti yang sudah diduga, pintu itu terkunci. Hanya ada alat kecil yang sepertinya untuk memasukan sebuah password.
Mengikuti instingnya, ia pun menjelajahi deretan kamar yang ada. Sesekali ia memeriksa laci dan tempat tidur, kalau-kalau ada petunjuk mengenai tempat itu.

Jessica membuka pintu kesembilan. Tunggu, ada sesorang di dalam!

"Aaaaa!" Jessica lari pontang-panting saking terkejutnya. Ia masuk ke salah satu kamar. mengunci pintu dan mengumpulkan kesadarannya kembali. "Astaga! Apa-apaan ini?"
Orang itu bukan manusia. Bajunya compang-camping, bekas sayatan dan luka sobek dimana-mana, mukanya pucat dan nyaris tak berbentuk. Dengan kondisi seperti itu, tentunya makhluk itu tak bisa berlari secepat Jessica.
"Jessica! Apakah itu kau?"
"Sam?" Jessica terkejut, lalu mengintip dari balik pintu. Di luar ada sam, utuh, hidup, sungguhan. "Sam! astaga, untung ada kau! Eh, tapi diaman Cindy?"
"ku belum lihat Cindy." ujar Sam. "kita ini dimana sih? Tadi ada zombie di dekatku."
"Tidak tahu. Aku juga baru saja kabur dari zombie." jawab Jessica. "Lalu apa yang kamu lakukan terhadap zombie itu?"
"Yah, spontan deh. Kulawan dengan tangan kosong."
Jessica duduk di lantai dan memeluk kedau kakinya. Sepertinya, ia mulai mengerti maksud game itu : 'bermain' yang sebenarnnya.
"Ayo cari Cidy! Dia pasti ketakutan sekali." kata Jessica, sambil bangkit berdiri.
"Sebentar! Kita perlu senjata." Sam mengambil kursi di sebelahnya dan membanting kursi itu keras-keras. "Ini, gunakan serpihan kursi ini."

Di Lantai dua, mereka memasuki sebuah ruang tamu. 

Jessica melihat jendela-jendela yang tak lagi  bening, jam digital yang tak berubah angkanya dan sofa penuh debu. Ada juga selembar kertas dan sebuah buku kecil. "Denah rumah ini dan buku telepon!" seru Jessica.
"Nomor-nomor telepon di buku ini hanya empat angka. Tidak seperti biasanya." ujar Sam sambil membuka-buka buku telepon itu.
"Bagus! Sini, biar kusimpan. Mungkin, inilah kumpulan passwordnya."
"Benar juga ya. Lalu, apa sulitnya game ini? orang-orang memang berlebihan." Sam terkekeh.
Tiba-tiba, terdengar erangan yang cukup keras dari belakang mereka. Ada dua sosok zombie berjalan cepat ke arah mereka. Jessica dan Sam pun langsung menyerbu dan memukul zombie-zombie itu dengan serpihan kursi yang mereka bawa. Namun, senjata itu nampaknya kurang efektif.
Menyadari usaha mereka sia-sia, Jessica berlari ke dapur yang tak jauh dari sana dan kembali dengan membawa sebuah pisau. "Ide Bagus!" kata Sam.
Dalam sekejap, kedua zombie itu berhasil dibuat terkapar dengan bagian tubuh hancur tercabik pisau. Kini, mereka bisa fokus kembali. Jessica membuka denah rumah itu. "Kita harus ke ruang bawah tanah. Cindy pasti disana!"
"Tolong! Siapapun, tolong aku!"
"Cindy!"

Mendengar suara Cindy dari ujung lubang, Jessica dan Sam mempercepat gerak mereka menuruni tangga tali. 

Namun, entah apa yang membuat tanah berguncang secara tiba-tiba. Langit-langit ruang bawah tanah itu mulai runtuh seperti hujan. "Gawat, ayo cepat!" kata Sam. Rasa panik menjalar di tubuh mereka.
Mereka kemudian berlari tanpa arah sambil menutup kepala. Tak ada lampu sama sekali disana.
"Cindy! Dimana kau?" teriak Jessica
"Disini!"
Jessica dan Sam bisa mendengar suara itu dari arah kanan. Mereka meraba-raba dinding, hingga akhirnya Sam menemukan gagang pintu Klik! Pintu itu terkunci. Mau tak mau, keduanya mendobrak pintu itu hingga terbuka dan Cindy pun menghambur keluar.
"Jesica! Sam! aku mau pulang sekarang juga! kita bias mati disini!" Cindy tampak bergetar dan menangis.
"Kita akan pulang, Cindy! Ayo!" ujar Sam.
Diluar, lorong rumah itu sudah seperti kapal pecah. Semua barang jatuh, hancur, dan parahnya lagi, ada sekitar sepuluh zombie besar di hadapan mereka!
"Aaaaaaa!" jerit Cindy mungkin, ia baru menyadari dimana mereka sekarang.
Mereka ingin menuju pintu keluar

"Pintu keluar ada di dekat mereka. Mau tak mau, kita harus hadapi mereka." kata Jessica.

Cindy menelan ludah, tak yakin bisa membunuh zombie-zombie itu. "Baiklah, aku akan mencoba."
Mereka berlari menuju pintu keluar. Benar saja, para zombie menyadari keberadaan mereka dan langsung mendekat. mereka memukul dan menusuk zombie-zombie itu sekuat tenaga. Kali ini memang terasa telah sulit, mungkin mereka para zombie raksasa penjaga rumah.
Jessica berususah payah menyingkirkan zombie yang mencekiknya. Kulitnya serasa akan robek. Ia juga sulit bergerak akibat tercengkram.
"Cindy!" Jessica mengumpulkan tenaga untuk berteriak dan melemparkan buku telepon temuannya ke arah Cindy. "Password pintunya ada disini!"
Cindy menggunakan waktu sedetiknya untuk memungut buku itu dan berlari mendekati pintu. "Tapi yang mana? Banyak sekali angkanya!" teriaknya.
"Menurutmu saja!"
Jessica nyaris tak sadarkan diri. Namun di tengah kesakitan itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Angka-angka jam di ruang tamu itu!
Pintunya memiliki password!
"Tunggu!"
Terlambat. Di layar alat itu sudah muncul tulisan 'Wrong Password'.
Duaarrrr! Tubuh mereka terlempar dan rumah itu hancur dalam sekejap.
"Jessica!" mama terlihat heran. Sudah tiga kali ia memanggil Jessica, tapi tidak ada jawaban.
Jessica, Sam dan Cindy terdiam dan gemetaran di dalam kamar. "Ayo makan" kata mama yang bingung melihat ketiganya seperti baru melihat hantu. "Sam, Cindy, ikut makan yuk!".
Sam dan Cindy hanya mengangguk. Tulisan besar 'Game Over' memenuhi layar komputer Jessica

THE END

Mereka pun keluar dari rumah itu

24 comments:

  1. Game yg membuat qt harus bner2 fokus n mguras pkiran. Keren tu. Nanti saya coba game yg bisa mengasah otak n pikiran. He

    ReplyDelete
  2. Keren banget........, cerpen2 yang ada di sini keren-kereeeennnnnnnnnn. akhirnya aku nemuin situs mantep kayak gini, Tambah lebih banyak cerpennya ya minnnnnnnn...

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak apaan, kaget banget aku nemuin nih situs langsung terpesona min >.<

      Delete
  3. wah, cerita yg bagus, kembangkan lagi y... :)

    ReplyDelete
  4. Good.terus berkarya :) semoga sukses gan

    ReplyDelete
  5. Lanjutkan inovasi nya gan,, semangat !!!

    ReplyDelete
  6. Terusin bakatmu gan , ane bantu dengan do'a , moga bisa buat cerpen yang lebih bagus dan baik untuk dibaca

    ReplyDelete
  7. dr kemaren cerpennya bagus2, Good Job sob :)

    ReplyDelete
  8. Kamvret betul nih cerpen -_- Ternyata cuma maen Game doang -_- Hehehe tapi Seru juga ceritanya :) Lanjutin Boss (y) Sukses Ngeblog (y)

    ReplyDelete
  9. Bagus ceeitanya. Bahasanya mudah di mengerti

    ReplyDelete
  10. game over haha, bagus ceritanya gan

    ReplyDelete
  11. Cerpen nya Keren gan :D
    Sip deh kembangin lagi

    ReplyDelete
  12. Bagus ceritanya, ditunggu cerita yang lain :D

    ReplyDelete
  13. Kita harus hilangin yg namanya phobia,dengan cara masuk atau kita kerjakan,malah jangan dihindari,kalau tidak bisa berubah kapan lagi kita bisa hilangkan phobia kita

    ReplyDelete
  14. Bagus banget ceritanya :D
    Lanjutkan (y)

    ReplyDelete
  15. cerita yang menarik dan bagus....lanjutkan gan buat bikin karya cerpennya yang bagus lagi.

    ReplyDelete
  16. Mantap dah cerpennya..
    Dikembangkan lagi bro, klo boleh lagi di bukukan aja bro (y)

    ReplyDelete
  17. gila fantasinya liar!
    mereka bertiga itu masuk ke gamenya apa cuma berhalusinasi doang? gw rada bingung

    ReplyDelete