Monday, January 18, 2016

Lemariku Dunia Cokelatku

Jangan beritahu siapapun tentang ini. 

aku punya sebuah rahasia, dan tak akan menjadi sebuah rahasia lagi setelah cerita ini berakhir. Begini, dua bulan lalu aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari lemari bajuku. Ada dunia yang berbeda. Ini bukan cerita seperti di film Narnia. Ini ceritaku, ada dunia coklat dalam lemariku. Aku sudah pernah mencoba membiarkan lemari itu terbuka sepanjang hari. Hasilnya, dunia cokelat itu hanya ada pada jam 11.07 sampai 13.03. Namun, karena aku sekolah hingga siang hari, aku hanya kesana pada hari libur atau Minggu. 
lemari penuh coklat gaby
Lemari Gaby
"Gaby!" Aku menoleh ke belakang kembaranku, Grace selalu masuk tanpa mengetuk pintu. "Oi anti-sosial, aku pinjam bajumu, ya?" 
Oh, tidak! sudah jam 11.00! "Grace, jangan!" terlambat. Dia membukanya. 
"Gab, apa ini? Astaga!" Grace tercengang melihat isi lemariku yang dipenuhi cokelat.
"Sudah kubilang, jangan dibuka!" gerutuku sebal. 
Kuharap Grace tak melakukan sesuatu yang ceroboh. 

Aku mengekorinya memasuki dunia cokelat.

Ada berbagai macam bentuk cokelat disini. mulai dari yang kecil hingga besar. semua sepertinya terbuat dari cokelat. bahkan tanah yang kami pijaki pun terbuat dari cokelat. setiap kali aku kemari, aku tak pernah makan secuil cokelat pun. sedangkan Grace sudah memetik cokelat berbentuk bunga dari tangkainya.
"Apa seluruh cokelat di dunia diproduksi dari sini?" tanya Grace.
"Iya. Seluruhnya berasal dari sini."
Kami terkejut mendengar jawaban itu. Seorang perempuan cantik, berpakaian serba biru, mendekati kami. Tapi tatapannya terlihat bukan seperti orang baik bagiku.
"Aku sering melihatmu." Perempuan itu menunjukku dan mengambil cokelat cari dengan cangkir peraknya. "Kamu beli pernah mencobanya. Cobalah!"
Aku menolak. "Coba Saja!" bujuk Grace. Tapi aku benci cokelat! Perempuan itu dan Grace terus membujukku.
Hm, oke, baiklah! kuulurkan jari telunjuku, untuk mencolek sedikit cokelat dari cangkir itu. Ujung lidahku mulai beraksi.
"Enak kan?" tanya perempuan itu dan Grace bersamaan. Aku menganggut tanpa ekspresi. "Ayo kita jalan-jalan," ajak perempuan itu. Grace bersorak senang. Aku biasa saja.
"Oh iya, siapa namamu? Sepertinya kamu seumuran dengan kami." ujar Grace.
"Chocolata. keren, kan? aku juga manusia seperti kalian,"jawabnya mantap. dia mengajak kami menaiki perahu cokelat. Seperti yang kubilang, air sungai disini juga berasal dari cokelat.
Sepanjang perjalanan, Grace selalu bertanya-jawab dengan Chocolata. Sedangkan aku hanya diam saja.
mereka menaiki perahu coklat di sungai coklat
Menaiki perahu bersama Chocolata
"Sudah 8 tahun aku disini. 1 tahun disini sama dengan 2 tahun di dunia kalian." cerita Chocolata. entah kenapa, aku merasa dia melirikku sinis. Tapi pada Grace, dia terlihat ramah. "Gaby, kenapa kamu tak pernah makan cokelat disini?" tanay Chocolata. Sekilas, kulihat Grace sedang mengunyah alat tulis dari cokelat.
"Ada kejadian di masalampau, yang membuatku membenci cokelat. Lagi pula, aku kesini hanya mencari ketenangan. Grace selalu berisik," sindirku. Grace menoleh dan memperlihatkan giginya yang penuh cokelat. Iyaks !
Kemudian Chocolata menurunkan kami di perumahan cokelat. "Gaby, kadang kita boleh saja mencoba lagi sesuatu yang menyakitkan di masa lampau. Bisa saja, sesuatu itu menjadi indah sekarang." ujar Chocolata tanpa melihatku.
penduduk coklat berbentuk boneka
Ramahnya penduduk cokelat

Penduduk disini berbentuk boneka yang juga terbuat dari cokelat. 

Mereka mencuci baju, bermain, membaca koran, layaknya manusia. Mereka juga terlihat sangat ramah.
Sepanjang perjalanan, otak Grace seperti terpasang radio. Sehingga dia terus bernyanyi sambil memakan cokelat.
"Kenapa kamu baru muncul sekarang?" ini pertanyaan yang mengusikku dari awal bertemu Chocolata.
"Karena saudaramu yang berisik itu. Beda dengan mu yang teramat diam."
"iya, Gaby anti-sosial banget! Di sekolah nggak punya teman," ejek Grace.
Eh, tangga menuju kemana ini? Aku menaikinya atas dasar penasaran. Di atas sana, ada sebuah ruangan yang pintu-pintunya terbuat dari bambu. kubuka perlahan. hanya ada satu sofa di pojok kiri dan di dinding juga terpajang banyak sekali foto. Semua foto berbingkai merah, kecuali satu... Fotoku! Kenapa bisa terpajang disni?
"Apa yang kamu lakukan?" suara itu lagi. Chocolata sudah berdiri di ambang pintu.
"Kenapa fotoku ada sini?" tanyaku.
Chocolata tertawa. "Kamu target selanjutnya. Atau saudaramu!" kulihat arlojiku, 12.59! Sepertinya, aku tahu apa ini, Aku berlari keluar dari ruangan ini, tapi Chocolata menahanku. "Kamu tak boleh keluar dari sini! Aku lah yang harusnya keluar dari tempat terkutuk ini!" Dia menatap tajam ke arahku. Langsung kupukul wajahnya, hingga jatuh.
"Grace! kita hanya punya 3 menit untuk pergi!" teriakku sambil menuruni tangga. Grace heran saat kami mulai berlari. Seketika, para penduduk dunia cokelat menghadang kamu dengan tatapan keji. Kemana hilangnya keramahan mereka tadi? Segera kami patahkan 2 batang pohon cokelat untuk menyerang mereka. Hanya dengan satu pukulan, mereka sudah terjengkang.
banyak pintu yang harus di pilih gaby dan grace
Pintu-pintu

Ada banyak pintu disini, yang mana menuju lemariku? 

Grace membuka satu-satu pintu yang ada, tapi tak bisa.
"Ayo, coba yang lain!" kulihat Chocolata mulai mendekat.
Tinggal 1 pintu lagi. Jam 13.02! Grace mencoba membukanya dan berhasil!
"Kamu jangan pergi!" Chocolata menarik tangan kiri ku. Grace juga berusaha menarik tanganku satunya. Dengan tak sabar, ku tendang perut Chocolata.
"Maaf!' seruku dan langsung keluar.
Grace menutup pintu lemariku dengan panik. "Apa tadi itu mimpi?" tanyanya. Aku tersenyum kecil dan menggeleng.
"Lemari ini harus dibuang."
"Kalau lebih dari jam 13.03, isinya akan kembali seperti semula." jelasku. Grace mengintip lemariku. Dia lega. Kini, isinya hanya baju-baju. "Kejadian tadi, jangan diceritakan kesiapapun, ya?" pesanku.

"Oke. Memangnya, kejadian memalukan apa yang membuatmu benci cokelat?" tanya Grace. 

Aku termenung. Grace membulatkan mata dan mulutnya. "Apa yang dulu aku pernah sengaja melemparimu dengan kue cokelat disekolah? Waktu itu kami sampai menangis kan?" tebak Grace.
Aku memutar ulang kejadian itu lagi. Tak terasa, air mataku menetes. 
grace dan gaby bersahabat
Grace memeluku. "Harusnya kamu tahu betapa malunya aku saat itu."
"Maaf, kalau aku bukan saudara yang baik untukmu. Aku sering menjelek-jelekanmu, berisik, dan tak pernah mengajakmu bermain. Terima kasih juga tadi. Kalau saja kamu tak segera mengajakku keluar. mungkin kita sudah terjebak disana selamanya."
"Tak apa, yang penting kita selamat." Grace melepas pelukannya. "Mau mendengar lagu-laguku?" Siang itu kami habiskan dengan bernyanyi bersama dan berloncat-loncatan di kasur. Aku mulai hafal lagu-lagu Grace. Seterusnya, mungkin aku akan melepas gelar 'anti-sosial' yang diberi oleh teman-temanku.
Dunia cokelat! entah bagaimana nasib Chocolata. Dia harus menunggu sampai ada seseorang yang masuk, sehingga ia bisa keluar. Tapi aku pastikan, bahwa orang itu bukan aku maupun Grace.
Untuk kalian yang mempunyai lemari dan mendapati isinya adalah sebuah dunia baru, aku sarankan untuk jangan pernah masuk! Meski itu adalah dunia cokelat atau dunia dengan kenikmatan lainnya sekalipun.

Penulis : Fransiska Olivia

17 comments:

  1. kalo panjang bukan cerpen namamnya.. :v

    ReplyDelete
  2. Menurut gue materi lu udah bgs, cuman deliverynya aja kurang ke penonton. Diawal juga pecah bgt, mungkin yg harus dibenerin cuma artikulasi sama tempo aja sih kali ya. Punchline jg ngena bgt diakhir. Itu aja sih dari gue, menurut gua geer nya berantakan

    ReplyDelete
  3. BAgus gan , sangat cocok untuk tugas sekolah (y)

    ReplyDelete
  4. Good cerpen om . Fb ane Bagoes Saudara Preskud Unity

    ReplyDelete
  5. Cerpennya bagus, bahasanya simpel. Mudah dicerna

    ReplyDelete
  6. Cerpennya bagus, bahasanya simpel. Mudah dicerna

    ReplyDelete
  7. Mantab cerpennya,bagus. Dah,teruskan(y)

    ReplyDelete
  8. Mantap cerpen nya tambah cerpen lagi dong (y)

    ReplyDelete
  9. Terbaik,petuah bijak yang begitu mendalam

    ReplyDelete
  10. bagus cerpennya dari jaman sma saya suka cerpen nice share gan

    ReplyDelete